Riset Kolaborasi FEB UM dan Saga University Jepang Paparan Kesejahteraan Pasca-Migrasi

Adpebinews. Migrasi tenaga kerja internasional sering dianggap sebagai jalan menuju peningkatan keterampilan dan kesejahteraan ekonomi. Namun, hasil riset terbaru menunjukkan bahwa hal tersebut tidak selalu terjadi secara otomatis.

Riset yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) bekerja sama dengan Saga University, Jepang, mengungkap bahwa paparan migrasi tidak berasosiasi signifikan dengan peningkatan modal manusia maupun kesejahteraan pasca-migrasi bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang.

Penelitian berjudul “Apakah Paparan Migrasi Membentuk Modal Manusia dan Kesejahteraan Pasca-Migrasi? Studi PMI di Jepang” ini dipimpin oleh Lohana Juariyah dari FEB UM dan Prof. Saliya de Silva dari Saga University. Tim peneliti juga melibatkan Inayati Nuraini Dwi Putri, Thomas Suseco, Afwan Hariri Agus Prohimi. Proyek ini didanai oleh Kompetisi Internal LP2M UM dan Saga University Strategic Partnership Program.

Dengan menggunakan dataset berisi 235 pekerja migran Indonesia (PMI) di Jepang, penelitian ini menelusuri bagaimana durasi, pelatihan, skala perusahaan, dan posisi kerja selama di Jepang memengaruhi perkembangan human capital (HCAP) dan kesejahteraan setelah kembali ke Indonesia.

Namun, hasil riset menunjukkan bahwa paparan migrasi belum terkonversi secara signifikan menjadi peningkatan modal manusia maupun kesejahteraan. Menariknya, data menunjukkan bahwa perempuan dan manajer menengah cenderung melaporkan tingkat kesejahteraan lebih tinggi, sementara PMI yang tinggal di Pulau Jawa justru memiliki tingkat kesejahteraan lebih rendah.

Menurut Lohana Juariyah, hasil tersebut menjadi sinyal penting bagi pembuat kebijakan.

“Durasi dan intensitas kerja di Jepang belum otomatis meningkatkan kesejahteraan. Diperlukan kebijakan reintegrasi yang fokus pada penerjemahan keterampilan lintas konteks, pemadanan kerja, dan dukungan wilayah,” ujarnya.

Riset ini juga menyoroti bahwa meskipun Jepang dikenal dengan budaya kerja disiplin, inovasi berkelanjutan (kaizen), dan standar kualitas tinggi, tidak semua pekerja migran mampu menyerap nilai-nilai tersebut menjadi modal yang bisa diterapkan saat kembali ke tanah air.

Secara teori, migrasi internasional sering dikaitkan dengan peningkatan produktivitas melalui investasi pada keterampilan, sebagaimana dijelaskan oleh Becker (1964) dalam teori modal manusia. Namun, penelitian FEB UM menemukan bahwa transfer keterampilan dari luar negeri ke pasar kerja domestik masih menghadapi banyak hambatan, seperti ketidaksesuaian keterampilan, pengakuan sertifikasi, serta keterbatasan ekosistem industri lokal—sejalan dengan temuan Docquier & Rapoport (2012) dan Dustmann & Görlach (2016).

Dengan demikian, penelitian ini memberikan pesan penting bahwa “semakin lama di Jepang” tidak selalu berarti “semakin sejahtera setelah pulang”. Diperlukan dukungan sistemik agar pengalaman kerja luar negeri benar-benar bisa menjadi sumber peningkatan kapasitas dan kesejahteraan pekerja migran di Indonesia.

Scroll to Top